Background

Background

Ganti background klik gambar di bawah ini

  • image1
  • image2
  • image3
  • image4
  • image2
  • image1
  • image4
  • image3
   Sadis dan mengerikan!!! Bulan Nopember sungguh menghebohkan. Manusia dibunuh, lemaknya diambil kemudian dijadikan sebagai bahan kosmetik. Lemak menusia ini dijual ke industri kosmetik di Eropa.
   Tidak kurang dari 60 orang dibunuh untuk diambil lemaknya oleh 11 orang pembunuh. 4 orang diantaranya sudah ditangkap, sedangkan 7 lainnya masih diburu oleh kepolisian Peru.
   “Lemak itu dibeli untuk diperdagangkan di laboratorium-laboratorium kecantikan Eropa, kemudian kosmetik-kosmetik dipasarkan diseluruh dunia,” kata kepala penuntut umum Jorge Sans Quiroz.
   Menurut keterangan para tersangka, unsur yang diambil oleh mereka adalah lemak pada beberapa organ tubuh dan lemak yang berada pada jaringan kulit. Lemak-lemak itu kemudian dijual dengan harga U$$ 15.000 (Rp.150.000.000,-) per liter ke negara-negara Eropa.
   Didalam dakwaan jaksa dituliskan, komplotan tersebut diduga menargetkan para petani dan penduduk asli di jalan-jalan terpencil untuk dijadikan korban. Para korban di iming-imingi pekerjaan sebelum mereka dibunuh.
   Polisi melakukan penangkapan awal bulan ini pada saat menemukan sebuah kontainer berisi lemak tubuh manusia yang sedang dikapalkan ke Lima (ibukota Peru) dari Kota Huanuco di Andean, sekitar 400 kilometer timur laut Lima.
   Tanda-tanda akan adanya jaringan perdagangan internasional lemak manusia pertama kali muncul sekitar dua bulan lalu. Demikian menurut Jenderal Felix Burga, pimpinan divisi kriminal Kepolisian Peru.
   Terungkapnya kasus ini menjadikan pro dan kontra penggunaan lemak untuk kosmetik. Salah para ahli medis meragukan kalau lemak manusia itu untuk kosmetik, sekalipun memiliki aplikasi medis. Lemak manusia biasanya untuk menghilangkan kerutan di tubuh, tetapi selalu di ambil dari perut atau bokong pasien bersangkutan.
   “Akan ada resiko mengancam jiwa kalau diambil dari lemak orang lain,” kata Neil Sadick, profesor dermatologi di Weill Cornell Medical College, New York.
   Salah satu tersangka yang ditahan kepada polisi mengatakan, bahwa aksi pembunuhan ini telah dilakukan selama lebih dari tiga dekade. Kelompok ini disebut sebagai pishtacos, yang merupakan nama legenda pembunuh di Peru yang menyerang orang di jalanan dan membunuh mereka untuk diambil lemaknya.
   Dalam konferensi pers di ibukota, polisi menunjukkan dua botol berisi lemak manusia dan foto yang diduga merupakan korban. Salah satu pembunuhan terjadi pada pertengahan September, di mana jaringan tubuh korban telah hilang untuk dijual.
   7 orang boronan itu masih dicari oleh pihak kepolisian disana, diantara tujuh boronan itu terdapat 2 orang warga Italia yang berperan sebagai penadah lemak manusia. Sedangkan 4 orang tersangka sudah menjalani masa tuntutan oleh Kejaksaan Peru.
   Wah, ngeri juga ya, mudah-mudahan saja kosmetik-kosmetik yang beredar di Indonesia khususnya yang import tidak ada unsur lemak manusia ini. Tetapi, untuk mengetahuinya memerlukan peran serta pemerintah dan kepolisian di Republik ini.
   Jakarta Kamerawan Kompas TV Alvi menjadi korban cairan kimia saat meliput aksi demonstrasi tolak kenaikan harga BBM di DPR, Jumat (30/3) lalu. Pihak Kompas TV tidak akan melaporkan kejadian tersebut kepada kepolisian, melainkan hanya fokus pada penyembuhannya.
   "Sementara belum (lapor polisi). Kita fokus ke penyembuhan luka dulu, sambil lihat perkembangannya," ujar Manager News and Current Affair Kompas TV Yogi Arif kepada detikcom, Sabtu (31/3/2012).
   Yogi mengatakan apa yang dialami oleh Alvi tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami jurnalis lainnya yang juga terkena cairan kimia tersebut. Alvi terkena cairan tersebut di lengan kanannya.
   "Kaya bercak-bercak gitu lah, kalau dilihat lukanya juga ngga besar," jelasnya.
   Pasca peristiwa tersebut, lanjut Yogi, pihaknya melakukan evaluasi internal untuk meningkatkan kordinasi antara tim yang dilapangan dan yang dikantor.
   "Kondisinya kita pantau, kita mengingatkan saling backup dalam situasi seperti itu. Seperti yang di Makassar, semua tim yang liputan kita wajibkan pake helm karena banyak lemparan batu disana," ungkapnya.
   Yogi sendiri tidak bisa menduga-duga siapa pelaku dibalik pelemparan cairan kimia tersebut. Pihaknya menyerahkan kepada polisi untuk mengusut siapa pelakunya.
   "Harapannya tentu dari sisi demonstran tidak anarkis, lalu kepada polisi agar lebih proporsional menangani demonstran," tutupnya.
   Sebelumnya Pihak Polda Metro Jaya saat ini sedang mencari pelaku yang menggunakan alat berbahaya pada saat melakukan demonstrasi menentang kenaikan harga BBM di depan Gedung DPR kemarin. Pendemo tersebut diduga membawa benda berisi cairan kimia berbahaya yang digunakan untuk melukai sejumlah wartawan dan anggota polisi.
   "Kami juga telah mendapat laporan dari teman-teman wartawan yang menderita luka itu. Anggota kami juga ada 3 orang yang menderita hal yang sama. Inilah yang akan kita kejar dan dalami," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto. (detik)

SBY: Kepala Daerah, Setialah Kepada Pemerintah

   Jakarta Peran para kepala daerah untuk menjaga ekonomi dan keamanan daerah sangat penting bagi suksesnya pembangunan. Maka di masa mendatang kepala daerah di semua tingkatan harus benar-benar jalankan tugas sesuai sumpah dan etika jabatan serta patuh kepada kebijakan pemerintah pusat. "Apapun kebijakan pusat kepala daerah harus patuh dan mendukung," tegas SBY.
   Demikian perintah Presiden SBY dalam pidatonya menanggapi pengesahan UU APBNP 2012 yang membatalkan rencana pemerintah menaikkan harga BBM per 1 April 2011. Pidato disampaikan di Istana Negara, Jl veteran, Jakarta, Sabtu (31/3/2012).
   "Saya sampaikan perintah kepada Gubernur, Walikota dan Bupati, setialah pada sumpah dan etika jabatan kita pada negara. Saya ajak saudara-saudara mari bekerja sekuat tenaga menjaga ekonomi kita sesuai APBNP 2012," ujar SBY.
   "Teruslah setiap dan patuh pada kebijakan pemerintah sesuai ketentuan UUD dan UU berlaku," tegasnya.
   Presiden SBY mengingatkan, bukan sekali ini Indonesia menghadapi ancaman krisis ekonomi. Tapi berkat kerja sama yang baik antara semua pihak, maka masalah-masalah tersebut berhasil diatasi bahkan ekonomi nasional tumbuh lebih baik lagi.
   Perintah juga disampaikannya menyangkut situasi keamanan daerah. Menjadi tugas jajaran pemerintah daerah menjaga suasana keamanan yang kondusif sehingga pembangunan daerah bisa terus berlangsung dengan baik demi peningkatan kesejahteraan warga.
   "Saya intruksikan kepada daerah bertanggungjawab menjaga masyarakat tenteram dan pembangunan di daerah bisa dilaksanakan dengan baik," tegas SBY. (detik)

SUKA TIDAK SUKA – inilah yang terjadi dimasyarakat kita. Berdasarkan dari hasil survey yang dilakukan oleh kelompok media atau organisasi penerbitan, bahwa masyarakat lebih menyukai berita-berita ‘miring’ atau berita yang mengkritik kebijakan pemerintah. Disamping berita-berita kriminalitas dan hukum juga mendapat porsi yang sama.

Pada intinya, masyarakat menyukai kontrol sosial yang dilakukan oleh media massa atau media elektronik.

    Melihat dari kebutuhan masyarakat pembaca akan informasi tersebut, maka tinggal pengelola media massa dan wartawannya mengemas keinginan tersebut. Berbagai macam cara ‘mengemas’ suatu berita hingga memuaskan masyarakat pembaca, dan sisi lain kita terlalu over mengkritisi kebijakan tersebut, sehingga akan merugikan masyarakat sendiri dan merugikan pemerintah. 
   Perlu diketahui, setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah pasti ada kelemahan-kelemahan didalamnya. Tinggal kejelian dari wartawan melihat dari kelemahan kebijaka tersebut. Ada juga suatu kebijakan yang digembar-gemborkan memihak kepada masyarakat, tetapi didalam perjalanannya ternyata banyak memihak kepada kepentingan sekelompok orang saja, yang notabene-nya memang banyak membantu kepada pemerintah selama berkuasa. 
   Sebenarnya masyarakat luas sangat tahu kondisi sebenarnya negara ini. Apalagi banyaknya perlakuan-perlakuan yang dianggap tidak memihak kepada kepentingan rakyat. Akibatnya, krisis kepercayaanpun terjadi, dan ini terus menerus tersumbat, dan akhirnya akan jebol dengan sendirinya. Yaa..seperti bom waktu lah, suatu saat akan meledak… 
   Akibatnya, apabila ada berita atau informasi yang sifatnya menjurus kritikan atau kontrol sosial kepada pemerintah, adduuhh laku banget tu koran…belum tengah hari sudah ludes dibeli masyarakat pembaca yang memang menyenangi berita-berita seperti itu. Bagaimana blogger maniaa…kira-kira itu dulu sekelumit tentang kesukaan masyarakat akan berita yang bersifat kririk atau kontrol sosial yang dilakukan mess media. Terima kasih

Pada dasarnya menjadi seorang wartawan mempunyai tugas ganda. Disatu sisi berjuang, menjunjung harkat dan martabat masyarakat, dan disatu sisi bagaimana bisa hidup mengisi perut agar tidak kelaparan. Nah, dalam kedua sisi yang jelas berbeda dan bertentangan ini kita di uji untuk menempatkan diri sebijaksana mungkin, arif dan bertindak tepat. Kalau tidak tepat, bisa-bisa berita-berita tersebut menjadi senjata makan tuan, atau akan mencelakai diri sendiri.

Idealis artinya kita berpegang pada prinsif, ‘KATAKAN, WALAU ITU PAHIT’. Tidak tergoyang dengan iming-iming apapun, tidak mempan dengan suap, tidak kenal keluarga, kerabat atau teman, kalau salah harus ditindak…wah..waaahh..ini namanya terlalu keras..!!!
Memang, kalau kita sudah bersikap idealis sudah tidak memandang sisi apapun juga, tidak memandang latarbelakang objek berita dan tidak memandang kedudukan seseorang. Dimata hukum jurnalistik semua sama!.
Kalau sudah begini kan hebat negara ini, saya jamin tidak ada lagi kepentingan-kepentingan yang menjual dan merusak citra wartawan Indonesia. Dalam perjalanan menjadi seorang wartawan, disamping kita mempunyai rasa idealis yang tinggi, kita juga harus bersikap realita. 
Dalam jeman ferormasi sekarang Idealis dan Realita tidak bisa dipisah-pisahkan, kedua-duanya mempunyai kesamaan dan kepentingan dengan si wartawan. Apalagi sekarang sangat banyak media dan koran-koran yang baru, dimana kalau jaman orde baru, surat kabar/koran se Indonesia hanya berkisar 50 an perusahaan penerbitan saja. Kalau sekarang, waaooww…sudah mendekati angka 400 lebih media baru, termasuk media elektronik seperti TV-TV swasta murni dan TV-TV milik pemerintah Propinsi dan Kabupaten/kota.
Meskipun sangat banyak media yang lahir, saya kutip satu pribahasa..’seperti jamur dimusim hujan’ itu sangat pas dan tepat. Karena selama orde baru kran para insan pers untuk berkarya membangun bangsa ini melalui pencerdasan masyarakat dikebiri dan dikekang. 
Media hanya wajib membuat berita-berita yang baik-baik saja, atau berita-berita ‘masuk surga’, tidak ada kritik dan tidak ada kontrol sosial. kalau melanggar, tahu sendiri akibatnya, media itu akan mendapat malapetaka alias dibrendel. Setelah jaman berubah, dan roda reformasi bergaung dibumi nusantara tercinta ini, maka insan pers mendapat kebebasannya kembali. 
Para insan pers dipersilahkan untuk mengembangkan program pencerdasan masyarakat, termasuk dalam pembukaan UUD 45, yakni ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Ini salah satu dari kewajiban insan pers untuk mencerdaskan bangsa ini melalui informasi-informasi yang dibaca dan dilihat masyarakat agar mereka terdidik untuk gemar membaca. 
Dengan gemar membaca koran, maka masyarakat secara tidak langsung akan cerdas karena ia tahu perkembangan dunia, tahu perkembangan wilayah-wilayah lain yang selama ini mereka tidak tahu. Bagaimana rekan-rekan..??? bingung yaaa…??? Waduuhh jadi ngelantur..mana ulasan tentang realitanya..?? 
Oke—oke..saya jelaskan lagi. Wartawan dalam mengambil suatu keputusan membuat suatu berita atau ulasan harus teliti dan bersikap bijak. Kalau berita itu memang menyangkut kemaslahatan umat manusia, dan menyangkut kepentingan umum kita wajib mengaksposenya dan memberitakannya. Apalagi kalau berita-berita kasus korupsi, waah..ini wajib kita beritakan..karena mereka mengkorupsi uang rakyat..hehehe nah kalau itu namanya sikap idealis..tegas dan tepat dalam mengambil keputusan. 
Sedangkan sikap realita..wartawan hendaknya berpikir realita..menggunakan logika dan akal untuk berpikir dampak apa yang akan terjadi apabila berita tersebut dimuat. Contoh, kalau kita memberitakan berita-berita yang berbau SARA, atau Etnis, maka resikonya sangat besar. Satu, akan terjadi perang saudara sesama rakyat Indonesia, atau pecahnya kesatuan bangsa. 
Dan yang kedua, si pembuat berita akan berdosa besar karena sudah memecah keutuhan bangsa ini, disamping medianya akan mendapat masalah yakni bakal diproses sesuai dengan hukum yang berlaku, atau yang terpahit lahit lagi..yang punya koran dan wartawannya dipenjara alias masuk bui, sedangkan medianya akan dibrendel atau dicabut ijinnya. Makanya, menjadi waryatawan dalam mengambil suatu keputusan harus arif, teliti dan hati-hati. 
Mencermati dampak positif dan negatif dari berita itu, kalau gara-gara berita itu si wartawan harus mati dibunuh orang..nanti dulu, pikir lagi apakah kita dalam posisi aman apabila berita itu keluar. Karena kita tidak tahu apakah objek berita bersikap bijaksana dengan berita tentang dirinya itu, atau misalnya ia merasa tidak terima kemudian main hakim sendiri dengan menembak si wartawan..mati deeehh..hehehee..bagaimana?? 
Kira-kira itu dulu tulisan untuk posting kali ini, mudah-mudah bermanfaat dan bisa menjadi pelajaran kita bersama. Terima kasih.
Wah, kelihatannya dalam minggu ini saya masih teraobsesi dengan kebesaran-kebesaran Tuhan yang terlihat secara nampak dan jelas seperti Lafaz ‘Allah’ dan ‘Muhammad’ di Penjuru Alam Semesta sebagai tanda-tanda kebesaranNya.

Ketimbang kita membicarakan suhu politik di Indonesia yang semakin memanas, lebih kita membicarakan hal lain yang tidak membuat kepala ini nyut..nyuut..nyuutt, hehehee

Ini merupakan Fenomena alam yang sangat langka, dimana secara alamiah awan ini membantuk gelombang yang sangat panjang, menyerupai sebuah pipa atau terowongan besar.

Gambar diambil oleh Daniela Mirner Eberl di Las Olas Beach, Maldonado, Uruguay, yang secara tidak sengaja berada ditepi pantai disana.

Kontroversipun berkembang dimana-mana. Menurut ahli astronomi Robert Nemiroff dan Jerry Bonnell, awan ini terbentuk akibat pertemuan antara awan panas dan awan dingin.

Sedangkan dibagian tengah gulungan awan itu terdapat sirkulasi udara layaknya sebuah gelombang ombak, dan kejadian ini tidak dapat diprediksi oleh siapa saja karena kejadian alam seperti ini tidak sama dengan gerhana matahari, siklus perputaran planet atau bintang.

Paling tidak kita semua mengetahui sedikit dari fenomena-fenomena alam yang terjadi dibelahan bumi ini.